Menghitung Zakat Penghasilan
Dalam kitab fiqih kontemporer zakat pendapatan/penghasilan lebih dikenal sebagai zakat profesi. Menurut Dr. Yusuf Qordhowi dalam Fiqhu az-Zakat, zakat profesi adalah pendapatan berupa gaji/upah yang diperolehnya berdasar profesinya. Baik itu dokter, pegawai negeri, konsultan, notaris, kontraktor, sekretaris, manajer, direktur, mandor, guru, karyawan dan lain sebagainya. Zakat pada hakikatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang hartanya sudah cukup nisabnya untuk dibagikan kepada para mustahik zakat.
Zakat profesi memang belum dikenal terutama khasanah ulama klasik. Sedangkan ulama kontemporer –berdasarkan hasil muktamar Internasional Pertama tentang zakat– bersepakat bahwa zakat profesi hukumnya wajib dikeluarkan apabila telah mencapai nisab berdasarkan dalil-dalil firman Allah Swt: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.(QS. Adz-Dzariyat (51): 19) “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.“ (QS, Al-Baqarah (2): 267) “Pungutlah zakat dari kekayaan mereka, berarti kau membersihkan dan mensucikan mereka dengan zakat itu, kemudian doakanlah mereka, doamu itu sungguh memberikan kedamaian buat mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. at-Taubah : 103)
Zakat profesi sejalan dengan tujuan disyariatkannya zakat, seperti untuk membersihkan dan mengembangkan harta serta menolong para mustahiq. Zakat profesi juga mencerminkan rasa keadilan yang merupakan ciri utama ajaran Islam, yaitu kewajiban zakat pada semua penghasilan dan pendapatan.
Zakat profesi ini oleh para ulama kontemporer diatur mengenai nisab, besar, dan waktu pembayarannya, ada dua model pendekatan:
1. Diperhitungkan selama setahun
Model bentuk harta yang diterima ini sebagai penghasilan berupa uang, sehingga bentuk harta ini di-qiyas-kan dalam zakat harta (simpanan/ kekayaan). Nisabnya adalah jika pendapatan satu tahun lebih dari senilai 85 gr emas (anggap emas Rp. 300 000/gram), maka:
Minimal wajib zakat profesi, jika penghasilan mencapai = 85 gram x harga emas per gram = 85 gram x Rp. 300 000/gram = 25 500 000.
Jika penghasilan Anda mencapai 25 000 000, maka Anda wajib membayar zakat 2,5 % x penghasilan Anda. Jika tidak, maka tidak wajib membayar zakat.
2. Dikeluarkan langsung saat menerima pendapatan
Ini dianalogikan pada zakat tanaman. Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat di –qiyas-kan ke dalam zakat pertanian. Jika ini yang diikuti, maka besar nisabnya adalah senilai 653 kg gabah kering giling setara dengan 522 Kg beras dan dikeluarkan setiap menerima penghasilan/gaji sebesar 2,5% tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok (seperti petani ketika mengeluarkan zakat hasil panennya)
Contoh: Penghasilan saya Rp. 1 750 000, maka: karena harga beras saat ini Rp 8 000: harga beras per kg x 522 kg beras = Rp 8 000 x 522 = Rp. 4 176 000. Karena 1 750 000 < 4 176 000, maka saya tidak wajib membayar zakat.
Al-hasil, berdasarkan penjelasan tersebut maka zakat profesi itu bisa dilaksanakan setahun sekali atau sebulan sekali, atau berapa bulan sekali, terserah. Yang jelas, jika ditotal setahun besar zakat yang dikeluarkan akan sama. Namun ingat, ia baru wajib mengeluarkan jika penghasilannya, seandainya ditotal setahun setelah dikurangi kebutuhan-kebutuhannya selama setahun melebihi nisab. Jika tidak, tidak wajib zakat.
wallahualam.
[ditulis kembali dengan beberapa perubahan di http://www.eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-penghasilan-apakah-ada-dalam-syariat-islam.htm]
Hakikat Manusia Menurut Islam
Garis Besar:
- Konsep Manusia
- Siapakah manusia?
- Persamaan dan perbedaan manusia dengan makhluk lain.
- Eksistensi dan Martabat Manusia
- Tujuan penciptaan manusia
- Fungsi dan peranan manusia
- Tanggung jawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah Allah
- Tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah
- Tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah
- Istilah-istilah Penting
- Roh bersifat azali: roh merupakan wujud yang terbentuk secara abadi tanpa adanya permulaan.
- Biologis manusia: mempunyai hubungan dengan ilmu pengetahuan tentang gejala hidup manusia dan hubungan dengan sesamanya dan dunia di luar dari lingkungannya.
- Pembudayaan ilmu: proses memajukan budaya/ilmu menjadi suatu kebiasaan yang mutlak.
- Memikul amanah: memikul kepercayaan/pesan
- Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari tulisan ini Anda dapat:
- Menjelaskan perbedaan pandangan al-Quran dengan pendapat ulama Islam tentang konsep manusia.
- Melakukan ibadah dengan benar, karena memahami tujuan penciptaan manusia adalah beribadah.
- Berpikir dan bersifat sesuai dengan fungsi dan peran manusia menurut Al-Quran
- Berperilaku sesuai dengan tanggung jawab dirinya sebagai hamba dan khalifah Allah.
A. Pendahuluan
Pada diri manusia terdapat perpaduan sifat yang berlawanan, sesuai dengan nama dan sifat Tuhan yang berlawanan. Manusia adalah hadits (baru) ditinjau dari segi badaniyahnya dan azali dari segi roh Illahinya. Dengan kata lain, jasad manusia adalah baru sedangkan rohnya adalah azali. Oleh karena itu pada diri manusia terdapat perpaduan sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Ketika Allah menyaksikan kesombongan iblis, yaitu tidak mau sujud kepada Adam, dalam Q.S. 38 (Shaad):75 Allah berfirman:
“Allah berfirman: “Hai iblis apakah yang menghalangi kamu sujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang yang (lebih) tinggi? “
Kedua tangan dalam ayat tersebut, menurut Ibn al-’Arabi, adalah nama atau sifat Tuhan yang berlawanan, baik nama aktif (al-asma’ al-fa’iliyyah) maupun nama reseptif (al-asma’ al-qabiliyyah). Nama aktif saling berlawanan seperti al-Anis (Yang Maha Ramah) berlawanan dengan al-Haib (Yang Pemalu).
B. Konsep Manusia
Siapakah Manusia?
Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang berasal dari spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Teori evolusi yang diperkenalkan Darwin pada abad XIX telah menimbulkan kepanikan, terutama di kalangan Gereja dan ilmuwan yang berpaham teori kreasi khusus. Apalagi setelah teori itu diekstrapolasikan oleh para penganutnya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah manusia berasal dari kera. Padahal Darwin tidak pernah mengemukakan hal tersebut, walaupun taksonomi manusia dan kera besar berada pada super famili yang sama, yaitu hominoidae.
Darwin mengetengahkan banyak fakta yang nampaknya lebih berarti daripada pendahulunya. Darwin mengemukakan teori mengenai asal-usul spesies melalui sarana seleksi alam atau bertahannya ras-ras yang beruntung dalam memperjuangkan dan mempertahankan kehidupannya. Teori Darwin memuat dua aspek. Aspek pertama bersifat ilmiah, namun ketika diungkapkan dan dilaksanakan, ternyata aspek ilmiahnya sangat rapuh. Aspek kedua bersifat filosofis yang diberi penekanan oleh Darwin sangat kuat dan diungkapkan secara jelas. Teori evolusi tidaklah segalanya, bahkan Darwin sendiri menyadari seperti diungkapkannya:
“Tapi aku mempercayai seleksi alam, bukan karena aku dapat membuktikan, dalam setiap kasus, bahwa seleksi alam telah mengubah satu spesies menjadi spesies lainnya, tapi karena seleksi alam mengelompokkan dan menjelaskan dengan baik (menurut pendapatku) banyak fakta mengenai klasifikasi, embriologi, morfologi, organ-organ elementer, pergantian dan distribusi geologis.”
Evolusi manusia menurut ahli paleontologi dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu:
Pertama, tingkat pra-manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1924 yang dinamakan fosil australopithecus.
Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecantropus erectus.
Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini ditemukan di Neander, karena itu disebut homo neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo soloensis).
Keempat, manusia modern atau homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.
Mencari makna manusia dilakukan melalui ilmu pengetahuan. Para ahli berusaha mendefinisikannya sesuai dengan bidang kajian (obyek materia) ilmu yang digelutinya.
Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan sangat tergantung pada metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis yang mendasari.
Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan). Menurut aliran ini manusia adalah makhluk yang memiliki prilaku interaksi antara komponen biologis (Id), psikologis (ego), dan sosial (superego). Di dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).
Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mehanicus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan subyektif) dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behavior menganalisis perilaku yang nampak saja. Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek rasional dan emosionalnya.
Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berpikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir, memutuskan, menyatakan, memahami dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.
Para penganut teori humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). Aliran ini mengecam psikoanalisis dan behavionarisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positip dan menentukan, seperti cinta, kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Menurut humanisme manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengaktualisasikan diri. Perdebatan mengenai siapa manusia di kalangan para ilmuan terus berlangsung dan tidak menemukan satu kesepakatan yang tuntas. Manusia tetap menjadi misteri yang paling besar dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang.
Konsep manusia dalam al-Qur’an dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang saling menunjuk pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas. Allah memakai konsep basyar dalam al-Qur’an sebanyak 37 kali, salah satunya al-Kahfi:110, yaitu: Innama anaa basyarun mitslukum (Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis manusia, seperti asalnya dari tanah liat atau lempung kering (al-Hijr:33; al-Ruum:20), manusia makan dan minum (al-Mu’minuun:33). Basyar adalah makhluk yang sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.
Kata insan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali, di antaranya (al-Alaq:5), yaitu: Allamal insaana maa lam ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul amanah (al-Ahzab:72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-Zumar:27, Walaqad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif.
Dengan demikian al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih atau tunduk atau menentang takdir Allah.
(to be continue..)
[diambil dari diktat kuliah Agama Islam, ITB]
Simulation of Water Quality Modelling of The Open Sea By Integrating MuQual3D and SINTEF Dream to Preserve The Environment of The Ocean
Abstract.
Exploration and exploitation activities of the oil and gas is done by human. Because of people’s activities – such as taking a bath and housework – produce waste water. This kind of waste water, namely Domestic Waste Water, has to be controlled not to exceed certain number, ruled by law. Besides, the paper also calculates Produced Waste Water yielded by the exploration process. Therefore, this paper analyzes distribution of the water quality resulted by the waste water, done by scientific approach. MuQual3D and SINTEF Dream, futhermore, two of the well-known software calculating the distribution of the water quality modelling, will be compared. The results, finally, will be briefly explained at the last chapter.
Resensi Buku ‘The Chinese Tao of Business’
Sebuah buku riset ditulis oleh tiga orang kompeten dalam bidang bisnis, George T.Haley, Usha CV Haley, dan Chin Tiong Tan. Berisi suatu kajian kesuksesan bisnis Cina, dimulai dari hal-hal bersifat spiritual yang diyakini Cina, kebudayaan Cina, “Jalan” (sesuatu yang dijadikan pedoman rakyat Cina kebanyakan), Taoisme, serta Konfusianis.
Buku ini menceritakan bagaimana paham-paham yang berkembang di Cina mempengaruhi pola bisnis mereka, disamping pola pikir Cina (Timur) berbeda dengan pola pikir Barat. Pola pikir Cina yang holistis (menyeluruh), intuitis, bertindak cepat dengan pola pikir Barat yang particularistic, analitis, lambat.
Buku ini cocok sebagai panduan awal untuk siapapun yang berniat mengembangkan bisnis di Cina.
Solusi supaya Indonesia Jaya
Yang namanya tentara rakyat, TNI pasti memihak kepada kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat sekarang adalah meningkatkan kesejahteraan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan. Sudah tercapaikah hal itu? Yang terjadi adalah sebaliknya. Kesejahteraan, pendidikan, dan kemiskinan semakin merajalela. Kudeta adalah satu-satunya solusi untuk meningkatkan kesejahteraan, pendidikan dan mengentaskan kemiskinan. Kita tinggal menunggu waktunya. Kudeta kudeta kudeta!!! Indonesia Jaya!!!
Konsep Ketuhanan Dalam Islam
Setelah Anda membaca tulisan ini, Anda dapat memahami poin-poin berikut ini:
1. Filsafat Ketuhanan dalam Islam.
- Siapakah Tuhan itu?
- Sejarah Pemikiran Manusia Tentang Tuhan.
- Tuhan Menurut Agama-agama Wahyu.
- Pembuktian Wujud Tuhan.
2. Keimanan dan Ketakwaan
- Pengertian Iman
- Wujud Iman
- Proses Terbentuknya Iman
- Tanda Orang Beriman
- Korelasi Keimanan dan Ketakwaan
3. Implementasi Iman dan Takwa dalam Kehidupan Modern.
- Problematika, Tantangan, dan Resiko dalam Kehidupan Modern.
- Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan Modern.
Istilah-istilah Penting:
- Ibadah Mahdhah: ibadah yang sudah ditentukan macam, cara, waktu, dan bacaannya.
- Spiritualistis Islam: Ciri/kerohanian Islam
- Karakter Islam: Watak/sifat/tabiat Islam.
- Pola pikir teologis: pola pikir berkenaan dengan ilmu ke-Tuhanan.
- Bersifat azali: wujud yang terbentuk secara abadi tanpa adanya permulaan.
Sasaran Pembelajaran:
- Menjelaskan perbedaan pandangan Max Muller, Andrew Lang, dan Agama Wahyu tentang monoteisme.
- Berpikir dan bersikap sesuai dengan aliran teologis yang dapat menunjang perkembangan IPTEK dan peningkatan etos kerja.
- Membuktikan adanya Tuhan melalui kajian ilmiah, sehingga dapat memantapkan iman.
- Bersikap dengan benar sesuai dengan prinsip dalam proses pembentukan iman
- Bersifat dengan benar sesuai dengan prinsip dalam proses pembentukan iman.
- Mengimplementasikan iman dengan ibadah dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
- Menerangkan peranan iman dan takwa dalam menghadapi tantangan kehidupan modern, sehingga meyakini benar perlunya beriman dan bertakwa.
A. Pendahuluan
Aspek keimanan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah aspek kejiwaan dan nilai. Aspek ini belum mendapat perhatian seperti perhatian terhadap aspek lainnya. Kecintaan kepada Allah, ikhlas beramal hanya karena Allah, serta mengabdikan diridan tawakal sepenuhnya kepada-Nya, merupakan nilai keutamaan yang perlu diperhatikan dan diutamakandalam menyempurnakan cabang-cabang keimanan.
Sesungguhnya amalah lahiriah berupa ibadah mahdhah dan muamalah tidak akan mencapai kesempurnaan, kecuali jika didasari dan diramu dengan nilai keutamaan tersebut. Sebab nilai-nilai tersebut senantiasa mengalir dalam hati dan tertuang dalam setiap gerak serta perilaku keseharian.
Pendidikan modern telah mempengaruhi peserta didik dari berbagai arah dan pengaruhnya telah sedemikian rupa merasuki jiwa generasi penerus. Jika tidak pandai membina jiwa generasi mendatang, “dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam nalar, pikir dan akal budi mereka”, maka mereka tidak akan selamat dari pengaruh negatif pendidikan modern. Mungkin mereka merasa ada yang kurang dalam sisi spiritualitasnya dan berusaha menyempurnakan dari sumber-sumber lain. Bila ini terjadi, maka perlu segera diambil tindakan, agar pintu spiritualitas yang terbuka tidak diisi oleh ajaran lain yang bukan berasal dari ajaran spiritualitas Islam.
Seorang muslim yang paripurna adalah yang nalar dan hatinya bersinar, pandangan akal dan hatinya tajam, akal pikir dan nuraninya berpadu dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia, sehingga sulit diterka mana yang lebih dahulu berperan kejujuran jiwanya atau kebenaran akalnya. Sifat kesempurnaan ini merupakan karakter Islam, yaitu agama yang membangun kemurnian akidah atas dasar kejernihan akal dan membentuk pola pikir teologis yang menyerupai bidang-bidang ilmu eksakta, karena dalam segi akidah, Islam hanya menerima hal-hal yang menurut ukuran akal sehat dapat diterima sebagai ajaran akidah yang benar dan lurus.
Pilar akal dan rasionalitas dalam akidah Islam tecermin dalam aturan muamalat dan dalam memberikan solusi serta terapi bagi persoalan yang dihadapi. Selain itu Islam adalah agama ibadah. Ajaran tentang ibadah didasarkan atas kesucian hati yang dipenuhi dengan keikhlasan, cinta, serta dibersihkan dari dorongan hawa nafsu, egoisme, dan sikap ingin menang sendiri. Agama seseorang tidak sempurna, jika kehangatan spiritualitas yang dimiliki tidak disertai dengan pengalaman ilmiah dan ketajaman nalar. Pentingnya akal bagi iman ibarat pentingnya mata bagi orang yang sedang berjalan.
B. Filsafat Ketuhanan dalam Islam
Siapakah Tuhan itu?
Perkataan ilah, yang diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al-Quran dipakai untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam QS 45 (Al-Jatsiiyah): 23, yaitu:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya….?”
Dalam QS 28 (Al-Qashash):38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri:
“Dan Fir’aun berkata: Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”
Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam Al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna:ilaahaini), dan banyak (jama’: aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika Al-Quran sebagai berikut:
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.
Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya, merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya (M.Imaduddin, 1989:56)
Atas dasar definisi ini, Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan manusia. Yang pasti, manusia tidak mungkin ateis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “la ilaaha illa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.
Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan
- Pemikiran Barat
Yang dimaksud konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun batiniah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Dalam literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock dan Javens. Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah sebagai berikut:
- Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif. Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti mana (Melanesia), tuah (Melayu), dan syakti (India). Mana adalah kekuatan gaib yang tidak dapat dilihat atau diindera dengan pancaindera. Oleh karena itu dianggap sebagai sesuatu yang misterius. Meskipun nama tidak dapat diindera, tetapi ia dapat dirasakan pengaruhnya.
- Animisme
Masyarakat primitif pun mempercayai adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik, mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang selalu hidup, mempunyai rasa senang, rasa tidak senang apabila kebutuhannya dipenuhi. Menurut kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus menyediakan kebutuhan roh. Saji-sajian yang sesuai dengan saran dukun adalah salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan roh.
- Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yangmembidangi masalah air, ada yang membidangi angin dan lain sebagainya.
- Henoteisme
Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum cendekiawan. Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak mungkin mempunyai kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (Ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan henoteisme (Tuhan Tingkat Nasional).
- Monoteisme
Kepercayaan dalam bentuk henoteisme melangkah menjadi monoteisme. Dalam monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga paham, yaitu: deisme, panteisme, dan teisme.
Sejarah Mahawarman
Tanggal 13 Juni 1959 sesuai dengan keputusan Pangdam VI/SLW No. 40/2/5/1959 Kolonel Kosasih, dibentuklah Wajib Latih (WALA) Mahasiswa dalam rangka menghadapi kericuhan di Jawa Barat, terutama yang ditimbulkan oleh DI/TII Kartosuwiryo. WALA Mahasiswa angkatan 1959 ini adalah Resimen Mahasiswa pertama di Indonesia, sebagai Komandan pertama adalah Kapten Ojik Soeroto.
Sebagai kelanjutannya, dari tanggal 13 Juni sampai 14 September 1959 diadakan latihan yang pertama di Kota Bandung yang menghasilkan satu Batalyon Mahasiswa dengan kekuatan 6 kompi terdiri atas 4 kompi mahasiswa ITB, 2 kompi gabungan Universitas & Akademi swasta.
Tanggal 19 Desember 1961, sejalan dengan Perjuangan Pembebasan Irian Barat, TRIKORA, keluarlah Instruksi Menteri PTIP No. 1 tahun 1962 tanggal 15 Januari 1962 untuk membentuk Corps sukarelawan di lingkungan Perguruan Tinggi dan Penguasa, Perang Daerah No. KPTS 04/7/1/PPD/62 tanggal 10 Juni 1962, maka terbentuklah “Resimen Mahasiswa Serba Guna”.
Tanggal 24 Januari 1963 terbentuk Batalyon Inti yang memiliki kualifikasi “Perlawanan Rakyat” sesuai dengan keputusan bersama Menko Hankam, Kasab & Menteri PTIP No.M/A/20/63.
Tanggal 21 April 1964 untuk mewujudkan Pembentukan Resimen Mahasiswa di tiap Kodam, maka Batalyon Inti digabung dalam satu wadah Resimen Mahasiswa yang disebut Resimen Mahawarman.
Tanggal 12 Juni 1964 Jendral A.H Nasution selaku Menko Hankam/Kasab mengesahkan Dhuaja Resimen Mahasiswa Jawa Barat. Tanggal 13 Juni 1964 pada upacara parade/defile di Lapangan Diponegoro, Dhuaja ini diserahkan kepada Komandan Resimen Mahawarman Kapten Ojik Soeroto oleh Jenderal A.H Nasution yang didampingi Menteri PTIP Prof.Ir. Tojib Hadiwidjaja dan Pangdam VI/Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie.
Pada kesempatan ini Menteri PTIP menganugerahkan nama Resimen Mahawarman bagi Resimen Mahasiswa di Jawa Barat yang berarti “Perisai yang Agung”. Dengan Motto “Widya Castrena Dharma Siddha” yang berarti “Penyempurnaan Pengabdian dengan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Keprajuritan
Bela Negara
Bangunlah seluruh bangsa Indonesia
Hadapi tantangan dan cobaan
Raihlah cita-cita yang mulia
Indonesia makmur dan sentosa
Walau berbagai suku dan agama
Ragam budaya serta golongan
Satu untuk semua, semua untuk satu
Jayalah Indonesiaku tercinta
Persatuan dan Kesatuan
Negara Republik Indonesia
Undang-undang Dasar 45
Pancasila Dasar Negara
Seluruh Rakyat Wajib Bela Negara
Songsong hari esok makmur sejahtera
Seluruh rakyat wajib bela negara
Songsong hari esok makmur sejahtera
Teks Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yg Asli (versi 3 stanza)
(I)
Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negriku
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
(II)
Indonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya
Di sanalah aku berada, untuk s’lama lamanya
Indonesia tanah pusaka, p’saka kita semuanya
Marilah kita mendo’a, Indonesia bahagia
Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya
Bangsanya, Rakyatnya semuanya
Sadarlah hatinya, sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya
(III)
Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti
Di sanalah aku berdiri, ‘njaga ibu sejati
Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji, Indonesia abadi
S’lamatlah rakyatnya, s’lamatlah putranya
Pulaunya, lautnya semuanya
Majulah negrinya, majulah pandunya
Untuk Indonesia Raya
Tentang Kebiasaa, Karakter, Disiplin
1. Many of the things we do each day, we do by habit. Success in life takes effort but it is not difficult and complicated. It is just a matter of knowing what you want, determining how to get it, and making habit of doing those things that you need to do. (Ralph Marstone)
2. We are what we repeatedly do. Excellence, therefore, is not an act but a habit. (Aristotle)
3. Ninety-nine percent of the failures come from people who have the habit of making excuses. (George Washington Carver)
4. Excellence is the gradual result of always striving to do better. (Pat Riley)
5. We must never be too busy to take time to sharpen the saw. (Stephen R. Covey)
6. If we keep doing what we’re doing, we’re going to keep getting what we’re getting. (Stephen R. Covey)
7. Experience is not what happens to a man; it is what a man does with what happens to him. (Aldous Huxley)
8. You are overcome by the fact because you think you are. (Norman Vincent Peale)
9. Do something every day that you don’t want to do. This is the golden rule for acquiring the habit of doing your duty without pain. (Mark Twain)
10. Perfection consists not in doing extraordinary things, but in doing ordinary things extra ordinarily well. (Angelique Arnauld)
11. Habit is either the best servants or the worst of masters. (Nathaniel Emmons)
12. To get what you want, STOP doing what isn’t working. (Dennis Weaver)
13. The only man who never make mistakes is the man who never does anything. (Theodore Roosevelt)
14. Failures are divided into two classes-those who thought and never did, and those who did and never thought. (John Charles Salak)
15. All things are difficult before they are easy. (John Norley)
16. Poverty is not the root cause of crime. (Rush Limbaugh)
17. All good things are difficult to achieve; and bad things are very easy to get. (Morarji Desai)
18. Men take only their needs into consideration, never their abilities. (Napoleon Bonaparte)
19. Winning is not a sometime thing. You don’t win once in a while, you don’t do things right once in a while, you do them right all the time. Winning is a habit. Unfortunately, so is losing. (Mrs. Hubbard Davis)
20. The majority of man meet with failure because of their lack of persistence in creating new plans to take the place of those which fail. (Napoleon Hill)
21. Be Proactive. 2) Begin with the end in mind. 3) Put first things first. 4) Think win win. 5) Seek first to understand… then to be understood. 6) Synergize. 7) Sharpen the saw. (Stephen R. Covey)
22. I believe that anyone can conquer fear by doing the things he fears to do, provided he keeps doing them he gets a record of successful experinces behind him. (Eleanor Roosevelt)
23. Those who think they have no time for bodily exercise will sooner or later have to find time for illness. (Edward Stanley 1826 – 1893, The Conduct of Life)
24. When you have a number of disagreeable duties to perform, always do the most disagreeable first. (Josiah Quincy)
25. If you create an act, you create a habit. If you create a habit, you create a character. If you create a character, you create a destiny. (Andre Maurois)
26. Luck is what happens when preparation meets opportunity. (Lucius Annaeus Seneca)
27. The unfortunate thing about this world is that good habits are so much easier to give up than bad ones. (William Somerset Maugham)
(to be continued…)
-
Terkini
- Menghitung Zakat Penghasilan
- Hakikat Manusia Menurut Islam
- Simulation of Water Quality Modelling of The Open Sea By Integrating MuQual3D and SINTEF Dream to Preserve The Environment of The Ocean
- Resensi Buku ‘The Chinese Tao of Business’
- Solusi supaya Indonesia Jaya
- Konsep Ketuhanan Dalam Islam
- Sejarah Mahawarman
- Bela Negara
- Teks Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yg Asli (versi 3 stanza)
- Tentang Kebiasaa, Karakter, Disiplin
- Tentang Teknik Kelautan ITB
- Hadiah Ulang Tahun
-
Tautan
-
Arsip
- Oktober 2011 (1)
- Maret 2011 (1)
- Desember 2010 (1)
- Desember 2009 (1)
- Agustus 2008 (1)
- Juli 2008 (3)
- Maret 2008 (8)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS