Agung’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Hakikat Manusia Menurut Islam

Garis Besar:

  • Konsep Manusia

- Siapakah manusia?

- Persamaan dan perbedaan manusia dengan makhluk lain.

  • Eksistensi dan Martabat Manusia

- Tujuan penciptaan manusia

- Fungsi dan peranan manusia

  • Tanggung jawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah Allah

- Tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah

- Tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah

  • Istilah-istilah Penting

- Roh bersifat azali: roh merupakan wujud yang terbentuk secara abadi tanpa adanya permulaan.

- Biologis manusia: mempunyai hubungan dengan ilmu pengetahuan tentang gejala hidup manusia dan hubungan dengan sesamanya dan dunia di luar dari lingkungannya.

- Pembudayaan ilmu: proses memajukan budaya/ilmu menjadi suatu kebiasaan yang mutlak.

- Memikul amanah: memikul kepercayaan/pesan

  • Sasaran Pembelajaran

Setelah mempelajari tulisan ini Anda dapat:

  1. Menjelaskan perbedaan pandangan al-Quran dengan pendapat ulama Islam tentang konsep manusia.
  2. Melakukan ibadah dengan benar, karena memahami tujuan penciptaan manusia adalah beribadah.
  3. Berpikir dan bersifat sesuai dengan fungsi dan peran manusia menurut Al-Quran
  4. Berperilaku sesuai dengan tanggung jawab dirinya sebagai hamba dan khalifah Allah.

A. Pendahuluan

Pada diri manusia terdapat perpaduan sifat yang berlawanan, sesuai dengan nama dan sifat Tuhan yang berlawanan. Manusia adalah hadits (baru) ditinjau dari segi badaniyahnya dan azali dari segi roh Illahinya. Dengan kata lain, jasad manusia adalah baru sedangkan rohnya adalah azali. Oleh karena itu pada diri manusia terdapat perpaduan sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Ketika Allah menyaksikan kesombongan iblis, yaitu tidak mau sujud kepada Adam, dalam Q.S. 38 (Shaad):75 Allah berfirman:

“Allah berfirman: “Hai iblis apakah yang menghalangi kamu sujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang yang (lebih) tinggi? “

Kedua tangan dalam ayat tersebut, menurut Ibn al-‘Arabi, adalah nama atau sifat Tuhan yang berlawanan, baik nama aktif (al-asma’ al-fa’iliyyah) maupun nama reseptif (al-asma’ al-qabiliyyah). Nama aktif saling berlawanan seperti al-Anis (Yang Maha Ramah) berlawanan dengan al-Haib (Yang Pemalu).

B. Konsep Manusia

Siapakah Manusia?

Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang berasal dari spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Teori evolusi yang diperkenalkan Darwin pada abad XIX telah menimbulkan kepanikan, terutama di kalangan Gereja dan ilmuwan yang berpaham teori kreasi khusus. Apalagi setelah teori itu diekstrapolasikan oleh para penganutnya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah manusia berasal dari kera. Padahal Darwin tidak pernah mengemukakan hal tersebut, walaupun taksonomi manusia dan kera besar berada pada super famili yang sama, yaitu hominoidae.

Darwin mengetengahkan banyak fakta yang nampaknya lebih berarti daripada pendahulunya. Darwin mengemukakan teori mengenai asal-usul spesies melalui sarana seleksi alam atau bertahannya ras-ras yang beruntung dalam memperjuangkan dan mempertahankan kehidupannya. Teori Darwin memuat dua aspek. Aspek pertama bersifat ilmiah, namun ketika diungkapkan dan dilaksanakan, ternyata aspek ilmiahnya sangat rapuh. Aspek kedua bersifat filosofis yang diberi penekanan oleh Darwin sangat kuat dan diungkapkan secara jelas. Teori evolusi tidaklah segalanya, bahkan Darwin sendiri menyadari seperti diungkapkannya:

“Tapi aku mempercayai seleksi alam, bukan karena aku dapat membuktikan, dalam setiap kasus, bahwa seleksi alam telah mengubah satu spesies menjadi spesies lainnya, tapi karena seleksi alam mengelompokkan dan menjelaskan dengan baik (menurut pendapatku) banyak fakta mengenai klasifikasi, embriologi, morfologi, organ-organ elementer, pergantian dan distribusi geologis.”

Evolusi manusia menurut ahli paleontologi dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu:

Pertama, tingkat pra-manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1924 yang dinamakan fosil australopithecus.

Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecantropus erectus.

Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini ditemukan di Neander, karena itu disebut homo neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo soloensis).

Keempat, manusia modern atau homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.

Mencari makna manusia dilakukan melalui ilmu pengetahuan. Para ahli berusaha mendefinisikannya sesuai dengan bidang kajian (obyek materia) ilmu yang digelutinya.

Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan sangat tergantung pada metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis yang mendasari.

Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan). Menurut aliran ini manusia adalah makhluk yang memiliki prilaku interaksi antara komponen biologis (Id), psikologis (ego), dan sosial (superego). Di dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).

Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mehanicus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan subyektif) dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behavior menganalisis perilaku yang nampak saja. Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek rasional dan emosionalnya.

 Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk  yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu  berpikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir, memutuskan, menyatakan, memahami dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.

Para penganut teori humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens (manusia bermain).  Aliran ini mengecam psikoanalisis  dan behavionarisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positip dan menentukan, seperti cinta, kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Menurut humanisme manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengaktualisasikan diri. Perdebatan mengenai siapa manusia di kalangan para ilmuan terus berlangsung dan tidak menemukan satu kesepakatan yang tuntas. Manusia tetap menjadi misteri yang paling besar dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang.

Konsep manusia dalam al-Qur’an dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang saling menunjuk pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas.  Allah memakai konsep basyar dalam al-Qur’an sebanyak 37 kali, salah satunya al-Kahfi:110, yaitu: Innama anaa basyarun mitslukum (Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis manusia, seperti asalnya dari tanah liat atau lempung kering (al-Hijr:33; al-Ruum:20), manusia makan dan minum (al-Mu’minuun:33). Basyar adalah makhluk yang sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.

Kata insan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali, di antaranya (al-Alaq:5), yaitu: Allamal insaana maa lam ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul amanah (al-Ahzab:72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.

Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-Zumar:27, Walaqad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas  menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif.

Dengan demikian al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih atau tunduk atau menentang takdir Allah.

(to be continue..)

[diambil dari diktat kuliah Agama Islam, ITB]

Maret 11, 2011 - Posted by | Uncategorized

6 Komentar »

  1. thanks yha, ..bwt tgs saya,!!

    Komentar oleh e_Lhi (Mey Liem) | Oktober 7, 2011 | Balas

    • Iya. Tgsnya hrs bgs yah.. Jgn asal2an,hehe

      Komentar oleh agungsukses | Oktober 1, 2013 | Balas

  2. ini juga bagus sekali isinya. mudah2an bisa kita amalkan

    Komentar oleh dorfleidenschaft | Januari 5, 2013 | Balas

    • Pahami dan amalkan. Setuju. :)

      Komentar oleh agungsukses | Oktober 1, 2013 | Balas

  3. good job

    Komentar oleh Vicky Agunk Putra | Februari 14, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: